Monday, January 14, 2013

Tharoh atau Bersuci


BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian
Thaharoh menurut pengertian bahasa serarti suci atau kesucian atau “bersih/kebersihan”. Kata ini mengandung pengertian yang lebih luas yaitu mencakup kebersihan atau kesucian dari segala kotoran yang bersifat fisik, seperti najis, kotoran, kencing dan lain-lain yang bersifat spiritual yaitu kebersihan dari aib dan kesehatan. Diantara kotoran ynag bersifat jasmaniah adalah kotoran yang dapat dilihat, dirasa dan diketahui dengan panca indera, sedangkan kotoran yang bersifar rohaniah adalah perbuatan yang kotor, perbuatan keji dan bersifat kotor lainnya.

Dalam istilah fiqih, pengertian Thaharoh lebih terkait dengan kebersihan dan kesucian dari kotoran yang bersifat material, seperti kencing, kotoran, maupun secara hukum seperti hadats, seseorang dapat bersih dari hadas apabila telah mandi dan berwudu’.
Thaharoh merupakan suatu aspek yang paling esensial sebelum seseorang melakukan ibadah.[1] Seperti termaktub di dalam alqur’an .
Artinya : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri (al-A’raf : 82)
            Menurut syara’ thaharoh itu ialah mengangkat atau menghilangkan penghalang yang timbul dari hadas atau najis.[2]

Syarat-syarat Wajib Thaharah
1.      Islam
2.      Berakal
3.      Baligh
4.      Berhenti darah haid atau nifas
5.      Telah masuk waktu shalat
6.      Tidak tidur
7.      Tidak lupa
8.      Tidak terpaksa
9.      Adanya air atau debu
10.  Dapat melakukan sesuai dengan kemampuan

Alat-alat Thaharah
1)      Air
2)      Debu
3)      Batu untuk istinjak

Air dan macam-macamnya
1)      Air yang suci dan mensucikan
Seperti : air hujan, air laut, air embun, air sumur yang keluar dari mata air.
2)      Air suci, tetapi tidak mensucikan
Seperti : air the, air kelapa
3)      Air suci dan mensucikan tetapi makruh untuk dipakai
Seperti : air yang terjemur matahari dalam bejana selain bejana emas dan perak.
4)      Air yang kena najis (Mutanajjis)
Bila air yang terkena najis itu kurang dari dua kulah, maka hukumnya najis, meskipun tidak berubah. Jika air yang kena najis itu mencapai 2 kulah atau lebih, maka dihukumi najis bila berubah dan dihukumi tidak najis bila tidak berubah.

Thaharah dari Najis
1.      Macam-macam Najis dan cara Menghilangkannya.
1)      Najis Mughallazah (najis berat)
-          Anjing, babi dan keturunan dari keduanya
-          Cara menghilangkannya:
Mencuci benda yang kena najis/dibasuh 7x, satu kali dari padanya hendaklah airnya dicampur dengan tanah.
2)      najis Mukhaffafah (Najis ringan )
Seperti : kencing bayi laki-laki yang belum berusia 2 tahun, belum makan selain air susu ibunya.
Cara mensucikannya:
Dengan cara memercikkan air diatas benda itu meskipun tidak mengalir
3)      Najis Mutawassitha (najis pertengahan)
Najis yang lain dari kedua najis di atas.
Seperti : sesuatu (kotoran) yang keluar dari dubur atau kubul manusia dan binatang, arak dan sebagainya.
Cara mensucikannya:
Dengan mengalirkan air di atas benda yang kena najis serta menghilangkan zat, rasa, warna dan baunya.[3]

Benda-Benda yang Termasuk Najis
1)      Bangkai binatang darat yang berdarah selain dari mayat manusia
2)      Darah (segala macam darah itu najis, hati dan limpa)
3)      Nanah
4)      Segala benda cair yang keluar dari kubul dan dubur
5)      Arak, setiap minuman keras dan memabukkan
6)      Anjing dan Babi
7)      Bagian badan binatang yang diambil dari tubuhnya selagi hidup.[4]

Cara-cara Berthaharoh
Wudhu’
Wudhu’ adalah mensucikan anggota badan tertentu dengan air untuk menghilangkan hadas kecil.
a)      Syarat – syarat Wudhu’
a.       islam
b.      tamyiz, yakni dapat membedakan yang baik dan yang buruk
c.       tidak berhadas besar
d.      dengan air yang suci dan mensucikan
e.       tidak ada penghalang air sampai ke seluruh anggota wudhu’
f.       mengetahui mana yang baik dan mana yang sunnah.
b)      Rukun-rukun Wudhu’
a.       niat
b.      Menbasuh muka
c.       Membasuh kedua tangan sampai dengan kedua siku
d.      Mengusap sebagian kepala
e.       Membasuh kedua kaki sampai dengan mata kaki
f.       Tertib
c)      Sunnah Wudhu’
1)      membaca basmalah sebelum berwudhu’
2)      berkumur-kumur
3)      membasuh lubang hidung
4)      mengusap seluruh kepala dengan air dan lain-lainnya.
d)     Hal-hal yang membatalkan wudhu’
a.       keluarnya sesuatu dari dua jalan (kubul dan dubur)
b.      hilangnya akal sebab gila, mabuk
c.       bersentuhan antara kulit laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrimnya.
d.      Menyentuh kemaluan.[5]

Mandi Wajib
1)      Pengertian mandi wajib
Ialah mengalirkan dan meratakan air keseluruh permukaan (kulit) tubuh dengan niat untuk menghilangkan hadas besar.
Allah Berfirman:


Artinya: “dan jika kamu junub, maka mandilah: (Q.S. al-maidah : 6)
2)      Hal-hal yang menyebabkan mandi wajib
a.       bersetubuh, sekalipun tidak sampai keluar sperma
b.      keluar mani (sperma)
c.       haid
d.      nifas
e.       melahirkan (wiladah)
f.       mati, kecuali orang mati syahid.
3)      Rukun –Rukun Mandi Wajib
a.       niat
b.      menghilangkan najis yang ada dibadan
c.       menyiramkan air keseluruh tubuh
4)      Sunah – Sunah Mandi
a.       membaca basmalah
b.      berwudhu sebelum mandi
c.       menggosok-gosok seluruh badan

Mandi Sunah
a)      mandi hari jum’at
b)      Mandi 2 hari raya Fitri dan Adha
c)      Mandi ketika hendak ihram, haji/umrah
d)     Mandi setelah sembuh dari gila
e)      Ketika memasuki Makkah
f)       Mansi ketika masuk kedalam agama islam
Tayammum
Pengertian
Tayammum ialah; mengusapkan tanah ke muka dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat. Tayammum adalah pengganti wudhu dan mandi sebagai Rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa uzur, yaitu:
1)      uzur karena sakit
2)      dalam perjalanan
3)      tidak ada air
Syarat-syarat Tayammum
1)      sudah masuk waktu shalat
2)      sudah diusahakan mencari air, tetapi tidak dapat, sedangkan waktu shalat sudah masuk
3)      dengan tanah yang suci dan berdebu
4)      menghilangkan najis
Rukun Tayammum
1)      niat
2)      mengusap muka dengan tangan
3)      mengusap 2 tangan sampai dua siku
4)      tertib
Sunnah Tayammum
1)      membaca bismillah
2)      menghembus tanah dari dua tapak tangan supaya tanah yang diatas tangan menjadi tipis
3)      membaca dua kalimat syahadat sesuadah bertayammum
Yang Membatalkan Tayammum
1)      segala hal yang membatalkan wudhu’
2)      mendapatkan air sebelum shalat.[6]


Menyapu Sepatu
Diperbolehkan menyapu sepatu
Menyapu dua sepatu adalah salah satu keringanan yang dierbolehkan bagi orang yang bermukim dalam jangka waktu sehari semalam, dan bagi musafir tiga hari tiga malam, masa tersebut terhitung sejak mulai berhadas (batal wudhu’) sesudah memakai sepatu
Syarat-syarat menyapu sepatu
Syarat-syarat nya ada empat :
a)      dua sepatu itu dipakai setelah sempurna dicuci bersih
b)      sepatu itu menutup anggota kaki yang wajib dibasuh
c)      sepatu itu dapat dipakai berjalan lama
d)     tidak terdapat najis atau kotoran dalam sepatu
Cara menyapu sepatu
a)      mengusap dua sepatu dilakukan setelah menersihkan anggota wudhu secara urut dan tertib, baru yang terakhir usap dua sepatu.
b)      Disapukan dibagian atas sepatu dengan tanpa mengusap bagian bawahnya.[7]
Hal-hal yang membatalkan menyapu sepatu
Yang membatalkan menyapu sepatu adalah :
a)      apabila kedua sepatu atau salah satu diantaranya terbuka baik sengaja atau tidak.
b)      Habis masa yang ditentukan
c)      Apabila ia berhadas besar yang mewajibkan mandi.

Dampak Thaharah bagi Ibadah
Setiap orang yang melakukan usaha apa saja ia menginginkan agar usahanya sukses demikian pula halnya dengan seorang yang melakukan ibadah, ia menginginkan agar ibadahnya diterima sepenuhnya oleh Allah, dengan membalas dengan ganjaran yang setimpal.
Ibadah yang dilakukan harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, ini didasarkan atas kebersihan dan kekuasaan. Ibadah yang dilakukan atas dasar kebersihan dan keabsahannya dan kesohihannya adalah suatu ibadah menurut pandangan Allah.
            Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persoalan kebersihan merupakan persoalan yang amat penting dan mempunyai keterkaitan dengan sah/tidaknya suatu ibadah.[8]

Kesimpulan
o   Thaharah menurut pengertian bahasa ialah suci atau kesucian atau bersih / kebersihan
o   Didalam Thaharah ada beberapa syaratnya thaharah ialah islam, berakal, baligh. Berhenti haid, masuk waktu, tidak tidur, tidak lupa, tidak terpaksa, adanya air dan debu.
o   Didalam berthaharah yang terpenting adalah air dan macam-macamnya, thaharah dari najis. Benda-benda yang termasuk najis, cara-cara berthaharah, tayammum, mnyapu sepatu, dan dampak thaharah bagi ibadah.

[1] Ahmad Thib Raya dan Siti Musdah Mulia, Menyelami Seluk Beluk Ibadah dalam Islam, (Bogor: Kencana, 2003) hlm. 119-120
[2] Lahmuddin Nasution, Fiqih I, Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara, hlm. 9.
[3] Muhammad Syamsi Abu Farhab, S. Saadah (RPAI) Rangkuman Pengetahuan Agama Islam (Surabaya: Amelia, 2004), hlm. 17-18.
[4] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1996) hlm. 16-20
[5] Ibid
[6] Sulaiman Rasjid, Op. cit., hlm. 39-43.
[7] Rifai’, Pintar Ibadah, (Jombang: Lintas Media, tth) hlm. 30-31
[8] Ibid

"Badge"