Saturday, May 24, 2014

Isi Laporan Individu PPL Muh Zaedun

BAB I
MASALAH – MASALAH YANG DIALAMI
SELAMA PELAKSANAAN PPK II

A.      Penyusunan RPP
Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru (baik yang menyusun RPP itu sendiri maupun yang bukan) diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Pada sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan profesinya.

“RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Rencana pelaksanaan pembelajaran memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (PP No. 19 Tahun 2005 tentang Stándar Nasional Pendidikan Pasal 20). Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. Untuk mata pelajaran Kelompok Program Produktif, RPP dapat mencakup lebih dari satu kompetensi dasar”.

RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Kegiatan pembelajaran yang dirancang pada RPP diharapkan dapat mewujudkan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (PP Nomor 19 Tahun 2005 , Pasal 19).

Tujuan Penyusunan RPP:

1.      Memberi kesempatan kepada pendidik untuk merencanakan pembelajaran yang interaktif dan dapat digunakan untuk mengeksplorasi semua potensi kecakapan majemuk (multiple intellegencies) yang dimiliki setiap peserta didik.
2.      Memberi kesempatan bagi pendidik untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, kemampuan pendidik, dan fasilitas yang dimiliki sekolah.
3.      Mempermudah pelaksanaan proses pembelajaran.
4.      Mempermudah pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran, sebagai input guna perbaikan pada penyusunan RPP selanjutnya (improvement process).

Manfaat Penyusunan RPP:

1.      Meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran sebagai bagian dari kompetensi paedagogik yang harus dimiliki guru. Hal ini sangat bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran.
2.      Proses pembelajaran yang dilakukan akan lebih terarah karena tujuan pembelajaran, materi yang akan diajarkan, metode dan penilaian yang akan digunakan telah direncanakan dengan berbagai pertimbangan.
3.      Meningkatkan rasa percaya diri pendidik pada saat pembelajaran, karena seluruh proses sudah direncanakan dengan baik.

1) Prinsip Pengembangan RPP
RPP disusun berdasarkan rancangan yang terdapat pada silabus atau dengan kata lain RPP merupakan uraian lebih lanjut dari silabus. Oleh karena itu prinsip pengembangan silabus juga merupakan prinsip pengembangan RPP yaitu:
1.      Ilmiah. Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
2.      Relevan. Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3.      Sistematis. Komponen-komponen RPP saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4.      Konsisten. Adanya hubungan yang konsisten (taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5.      Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6.      Aktual dan kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7.      Fleksibel. Keseluruhan komponen RPP dapat mengakomodasi variasi peserta didik serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8.      Menyeluruh. Materi RPP mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang akan dicapai untuk mendukung ketercapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

2) Penyusunan RPP
RPP disusun melalui langkah-langkah berikut :

1.      Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertuang pada silabus, dengan memperhatikan; (1) keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat pada silabus dan (2) ruang lingkup SK yang akan disajikan dalam kegiatan pembelajaran.
2.      Menyusun SK, KD dan indikator sesuai dengan RPP yang akan disusun. SK,KD dan indikator sebagai mana yang terdapat pada silabus.
3.      Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. Rumusan tujuan pembelajaran lebih rinci dari KD dan Indikator, tetapi adakalanya rumusan tujuan pembelajaran sama dengan indikator, karena indikator sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.
4.      Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran yang terdapat pada silabus.
5.      Menentukan metode pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir. Kegiatan awal merupakan kegiatan pembelajaran yang ditujukan un­tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
6.      Menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan.
7.      Menyusun perangkat penilaian meliputi lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dan lain-lain.
   Berikut ini adalah permasalahan- permasalahan yang dihadapi oleh calon guru (Praktikan) ketika mengajar di MTs NU PAKIS Bunut Wetan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang :
1.        Penyusunan RPP Pertama
Dalam penyusunan RPP yang pertama ini pratikan merasa kesulitan untuk penyusunan RPP,  dimana RPP yang disusun ternyata harus sesuai dengan petunjuk dari guru pamong sehingga setelah direfisi masih banyak yang kurang. Kekurangannya antara lain:
a.       Pratikan merasa kesulitan untuk menentukan indikator yang harus di sinkronkan dengan tujuan pembelajaran. Menurut pratikan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, namun ternyata tidaklah demikian, tujuan pembelajaran adalah penjabaran dari indikator.
b.      Kesulitan dalam menentukan metode dan model pembelajaran yang sesuai
c.       Materi yang dijabarkan tidak secara terperinci
2.        Penyusunan RPP Kedua
a.       Masalah yang di hadapi masih sama dengan penyusunan RPP yang pertama yaitu Kesulitan dalam menentukan metode dan model pembelajaran yang sesuai.
b.      Waktu proses pembelajaran, tidak sesuai dengan waktu yang direncanakan dalam RPP,
c.       Kesulitan dalam membedakan penilaian: teknik, bentuk instrument, dan contoh instrument.
3.        Penyusunan RPP Ketiga.
Untuk penyusunan RPP ke tiga dan seterusnya tidak menemukan kesulitan dan permasalahan, kerna peratikan selalu konsultasi dengan guru pamong.

B.       Proses Penampilan
1.        Penampilan pertama
a.         Pada penampilan pertama, pratikan mengalami masalah umum yang selalu dialami oleh calon guru di setiap pengalaman pertama mengajar yaitu gugup atau nervous. Sehingga terkadang pratikan lupa apa yang akan dikatakan di depan siswa. Dalam menyampaikan materi pembelajaran, terkesan tidak teratur sehingga langkah-langkah pembelajaran yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan RPP.
b.         Kurangnya sarana dan prasana olahraga yang membuat setiap materi yang diajarkan kurang bisa dipahami siswa.
c.         Menyesuaikan cara berbicara dengan kebiasaan berbicara siswa di tempat PPK.
2.        Penampilan kedua
Mengalami kesulitan dalam memberi motivasi dan apresiasi sehingga tidak dapat dijawab oleh siswa, hal ini dapat terjadi karena pratikan tidak menyampaikan terlebih dahulu materi yang akan dipelajari.
a.         Mengalami kesulitan dalam mengatur siswa di kelas dalam kegiatan bekelompok dan berdiskusi. Memang tidak dipikirian, jika dalam berdiskusi atau berkelompok siswa tidak ada yang tenang atau diam. Terkadang siswa terlihat serius berdiskusi namun ternyata membicarakan hal yang non-akademis atau bergurau sendiri-sendiri. Pratikan kurang memperhatikan apakah ada siswa yang sudah mendapatkan kelompok atau belum.
b.        Kelemahan yang dimiliki pratikan adalah kurang bisamongkondisikan siswa yang membuat gaduh kelas.
3.        Penampilan ketiga, sampai dengan Penampilan mengajar yang terakhir Praktikan tidak mendapatkan permasalahan-permasalahan yang berarti lagi.

C.      Bimbingan Belajar/Ekstra Kurikuler
Di MTs NU Pakis Kabupaten Malang ini mempunyai berbagai macam ekstrakurikuler seperti Pramuka,Palang merah Remaja (PMR), Musik Islami,Perisai Diri, Drumband,bimbingan komputer dll. Mahasiswa PPK-II belum mendapat maksimal untuk membimbing kegiatan ekstrakurikuler ini maupun bimbingan belajar. Hal ini dikarenakan sudah diserahkan kepada pihak/ lembaga lain yang lebih berpengalaman demi kemajuan MTs NU Pakis.

D.      Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah / Tempat Praktek
Kerjasama dengan orang tua siswa tidak terlalu mengalami kendala yang berarti hal ini dibuktikan dengan terjalinnya kerjasama yang baik antara PPK dengan wali murid. Oleh karena itu, sejauh ini tidak ada orang tua siswa yang melakukan komplen atau bentuk ketidaksenangan apapun terhadap PPK. Malahan ada beberapa orang anggota PPK di MTs NU Pakis yang diminta orang tua siswa untuk memberikan bimbingan diluar sekolah (les). Oleh karena itu, ini membuktikan adanya kerjasama yang baik antara kedua belah pihak.

E.       Proses Bimbingan
  Dalam proses bimbingan atau konsultasi dengan guru pamong maupun dosen pembimbing, praktikan hanya sering berkonsultasi dan berbagi pendapat atau solusi dengan guru pamong saja. Jika dengan dosen pembimbing praktikkan jarang berkomunikasi di karenakan kami jarang bertemu, praktikan berkomunikasi dengan Guru pamong jika mengalami masalah pribadi atau dengan kelompok saja.

BAB II
FAKTOR PENYEBAB DARI MASALAH YANG DIALAMI

A.       Penyusunan RPP
Pada penyusunanRPP yang pertama, pratikan mengalami kesulitan dalam menentukan indikator dan tujuan pembelajaran. Ini dikarenakan pratikan belum mengerti dan paham bagaimana mensinkronkan dua komponen tersebut. Metode yang digunakan belum sesuai. permasalahan yang dialami Praktikan pada penyusunan RPP yaitu penggunaan media yang tidak sesuai dikarenakan tidak ada persiapan. Penerapan materi tidak terperinci dikarenakan praktikan belum menguasai materi. Praktikan tidak mencantumkan kriteria penilaian atau penskoran karena Praktikan terburu-buru menyusun RPP sedangkan waktu pelaksanaannya sudah dekat.
Pada penyusunan RPP yang kedua Faktor permasalahan yang dialami Praktiakan  yaitu waktu proses pembelajaran yang tidak sesuai dengan waktu yang direncanakan dalam RPP, penyebabnya karena siswa yang terlalu banyak dan kebiasaan siswa yang suka bermain di dalam kelas. Waktu proses pembelajaran, tidak sesuai dengan waktu yang direncanakan dalam RPP, Kesulitan dalam membedakan penilaian: teknik, bentuk instrument, dan contoh instrument.
Pada penyusunan RPP yang ketiga penyebabnya adalah  pratikan kurang memperdalam materi yang akan dijelaskan sehingga dalam kegiatan berdiskusi banyak siswa yang bertanya tentang materi. Dalam menjelaskan materi peratikan terkadang lupa dengan media pembelajaran, sehingga media yang suda disiapkan tidak dapat dijelaskan. Waktu yang diberikan untuk berdiskusi kelompok tidak diberikan sehingga untuk mempresentasikan hasil diskusi dilanjutkan ke pertemuan berikutnya

B.       Proses Penampilan
Permasalahan yang muncul pada penampilan pertama disebabkan karena ini adalah pengalaman pertama praktikan mengajar. Praktikan gugup menghadapi siswa yang sebenarnya yang membuat praktikan lebih tertantang. Berbeda ketika mengajar dengan sesama teman sendiri yang lebih santai dan mengenal satu sama lain. Di lapangan, praktikan harus menyesuaikan dulu dengan kondisi siswa-siswa yang akan di ajar. Mereka adalah orang–orang baru dimata praktikan. Sehingga praktikan terkadang merasa malu dan canggung ketika mengajar di depan kelas. Pengelolaan kelas VIII oleh Praktikan juga kurang maksimal. Praktikan kurang bisa mengendalikan kelas yang dipegang karena praktikan sendiri kurang tegas dalam memimpin kelas dan masih ragu untuk menegur karena masih baru saling mengenal satu sama lain.
       Pada penampilan mengajar kedua, praktikan kesulitan mengontrol siswa ketika kegiatan berdiskusi. Ini dikarenakan praktikan belum mampu menguasai kelas ketika diskusi berlangsung. Praktikan kurang mengggunakan metode / strategi pembelajaran yang efektif yang dapat membuat siswa lebih terkontrol.
Ketika penampilan mengajar ketiga, praktikan mulai ada peningkatan dalam pengelolaan kelas maupun cara mengajarnya.

C.       Bimbingan Belajar / Ekstrakurikuler
Dalam pelaksanaan bimbingan belajar maupun kegiatan ekstrakurikuler, praktikan dan mahasiswa PPK II yang lain tidak mengalami kesulitan karena Praktikan diberi kesempatan dan kepercayaan untuk mendampingi ekstrakurikuler yang ada di MTs NU Pakis ini.
Dan mahasiswa praktikan sudah mempunyai pengalaman dalam Ekstrakurikuler yang ada diMTs NU Pakis , dan praktikan menjaga sesuai jurusan masing-masing.
Penekanan dalam ekstrakurikuler di MTs NU Pakis ini sangat bagus karena keaktifan dan semangat siswa yang begitu tinggi, dan guru dalam memberi semangat atau motivasi bagi siswa untuk mengikuti ekstrakurikuler di MTs NU Pakiskabupaten Malang.

D.       Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah / Tempat Praktek
Ketika bersosialisasi dengan warga sekolah, praktikan tidak mengalami kesulitan. Pelaksanaan kegiatan seperti mengelola KOPSIS, pengelolaan perpustakaan juga terlaksana dengan baik. Juga dengan jadwal piket mahasiswa praktikan berjalan dengan baik dan praktikan membuat jadwal piket itu sendiri jadi jadwal piket praktikan tidak berbenturan dengan jadwal mengajar dan praktikan juga saling membantu guru untuk mengisi kelas yang kosong walaupun itu tidak pada waktu jadwal piket kami.

E.       Proses Bimbingan
        Faktor utama penyebab dari kurangnya bimbingan dan arahan dari dosen pembimbing adalah sedikitnya intensitas waktu yang dimiliki oleh dosen pembimbing yang sulit ditemui. Sehingga praktikan kurang mendapatkan bimbingan dan arahan dari dosen pembimbing yang seharusnya memberikan dukungan, arahan, dan motivasi pada mahasiswanya. Oleh karena itu praktikan mengandalkan masukan dari guru pamong dan teman-teman se-PPK II.


BAB III
UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH

A.    Penyusunan RPP
Untuk menanggulangi masalah dalam penyusunan RPP pertama adalah praktikan harus benar-benar memahami bagaimana menyusun RPP yang baik dan benar. Praktikan harus berkonsultasi pada guru pembimbing bagaimana menghubungkan 2 komponen pembelajaran tersebut (indikator dan tujuan pembelajaran serta mencocokkan kembali dengan silabus yang ada sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam penulisan RPP.
Dalam menjabarkan materi pembelajaran, diharapkan praktikan tidak mengacu pada satu sumber saja melainkan harus mencari sumber belajar sebanyak- banyaknya. Penggunaan media juga menjadi masalah tersendiri bagi praktikan, mengingat media pembelajaran sangat diperlukan di sekolah ini. Siswa di MTs NU Pakis ini mempunyai karakter yang unik yang jarang di temui di sekolah lain. Praktikan merasa di tantang untuk dapat mengembangkan media pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Untuk itu praktikan sering melakukan sharing dengan guru pembimbing maupun dengan teman PPK yang lain. 
Penentuan produk yang harus sesuai dengan SKKD, indikator, dan tujuan pembelajaran memang agak sulit, namun praktikan berusaha untuk menyesuaikannya dengan meihat di silabus menyesuaikan sendiri agar produk yang dihasilkan di akhir pembelajaran dapat tercapai.

B.     Proses Penampilan
1.      Penampilan Pertama
Masalah yang dihadapi oleh Praktikan adalah :
·         Pada awal mengajar masalah yang dihadapi yaitu gugup/nervous dan tegang, sehingga penyampaian materi kurang teratur dan tidak sesuai dengan RPP.
·         Praktikan kurang bisa mengelola kelas dengan baik.

Solusi :
·         Praktikan harus lebih menyiapkan diri jika akan mengajar sehingga dalam proses pembelajaran lebih tenang dan tidak tegang agar semua materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik.
·         Dalam pengelolaan kelas, praktikan harus lebih memahami karakter siswa dan menggunakan strategi pembelajran yang tepat dan sesuai.

2.      Penampilan Kedua
Masalah yang dihadapi oleh Praktikan adalah :
·         Kesulitan mengendalikan siswa dalam kegiatan berkelompok dan berdiskusi
·         Praktikan kurang tegas dalam menghadapi siswa yang berbuat gaduh.
Solusi :
·         Dalam membimbing kelompok dan diskusi, seharusnya praktikan memberikan tanggung jawab sendiri-sendiri pada setiap anggota kelompok dengan memberikan tugas individu, sehingga mereka lebih fokus terhadap tugas kelompoknya.
·         Praktikan seharusnya memberikan ketegasan pada siswa yang suka membuat gaduh dikelas dengan menanamkan kedisiplinan di awal kegiatan pembelajaran, sehingga dalam kegiatn pembelajaran lebih fokus dan kondusif.

C.    Bimbingan Belajar atau Ekstrakurikuler
Untuk kegiatan ekstrakurikuler praktikan merasa bahwa tidak ada kendala pada setiap kegiatan ekskul karena semangat dan Kektifan siswa di MTs NU Pakisyang begitu tinggi dan guru pembimbing yang bersemangat dan memberi motivasi kepada muridnya.

D.    Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah / Tempat Praktek
Untuk menanggulangi kendala dalam lingkungan sekolah / tempat praktek khususnya di Organisasi Intra Sekolah atau yang biasa di sebut dengan OSIS, seharusnya siswa di beri pengertian arti OSIS, misi dan visi, dan tujuan OSIS tersebut, jadi jika siswa OSIS mengadakan pertemuan itu harus tahu apa yang akan dilakukan, jadi tidak seperti saat ini, di MTs NU Pakis  siswa atau anggota OSIS kurang mengerti atau kurang paham. Pertemuan yang diadakan selalu tidak bermanfaat bagi OSIS. Oleh karena itu, jika setiap ada pertemuan OSIS ada baiknya selalu didampingi oleh pembina OSIS.

E.     Proses Bimbingan
         Untuk menanggulangi kendala bimbingan, praktikan menyempatkan diri untuk meminta saran dan masukan dari guru pembimbing disela-sela waktu yang luang. Untuk konsultasi dengan dosen pembimbing, biasanya praktikan lakukan via telepon dan bertemu di kampus. Oleh karena itu  proses bimbingan dapat berjalan dengan baik dan praktikan dapat membenahi kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebelumnya.
  

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
1.      Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus.
2.      Penyusunan RPP
a)      Dalam menyusun RPP, praktikan diharapkan menyesuaikan dengan silabus dan Standar Isi yang berlaku agar tidak menimbulkan kerancuan dalam penyusunannya.
b)      Dalam menjabarkan dan mengembangkan materi, praktikan dapat mencari dari sumber-sumber yang sebanyak-banyaknya, agar dapat lebih matang dalam menjelaskan materi, dan sumber tersebut tidak harus dari buku yang dapat dari sekolah, tapi dari luar sekolah pun bisa, jadi tidak harus dari 1 buku saja.
c)      Penyesuaian antara indikator dan tujuan pmbelajaran harus sesuai dengan produk yang akan dihasilkan  dalam akhir pembelajaran.

B.     Proses Penampilan
a)      Persiapan diri yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan baik
b)      Kurangnya memotivasi siswa berkaitan dengan materi yang diajarkan.
c)      Penguasaan strategi dan metode pembelajaran yang tepat membuat praktikan mudah mengelola kelas dengan baik. 
d)     Kurang jelas dalam memberikan contoh atau ilustrasi sesuai dengan tuntutan aspek kompetensi.
e)      Kurang mengeksplorasi media yang sudah ada sesuai dengan kondisi siswa dan sekolah MTs NU Pakis Malang.

3.      Bimbingan Belajar atau Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler itu sangat penting bagi siswa MTs NU Pakiskabupaten Malang, karena dengan adanya ekstrakurikuler siswa dapat percaya diri, mempunyai berbagai macam pengalaman. Dan siswa MTs NU Pakis kabupaten Malang ini adalah siswa yang sangat berbakat dan cerdas karena mampu menang dalam berbagai macam perlombaan.

4.      Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah / Tempat Praktek
Guru dan mahasiswa praktikan IKIP Budi Utomo Malang dapat saling bekerja sama dan mengelola MTs NU Pakiskabupaten Malang.

5.      Proses Bimbingan
Praktikan meminta saran, arahan, dan masukan dari guru pembimbig maupun dosen pembimbing dengan memanfaatkan waktu luang.
C.    Saran
1.      Diharapkan guru dapat meningkatkan komunikasinya dengan siswa-SiswiMTs NU Pakis kabupaten Malang, agar siswa MTs NU Pakis Malang dapat termotivasi untuk belajarnya dan kegiatan – kegiatan yang ada di MTs NU Pakis kabupaten Malang.
2.      Diharapkan dosen pamong lebih meningkatkan intensitas waktu luang untuk  berkomunikasi dan membimbing praktikan
3.      Dalam kegiatan belajar mengajar peranan media sangat penting dan bermanfaat bagi siswa. Oleh karena itu, diharapkan praktikan dapat memanfaatkan media pebelajaran dengan baik, dan sekolah memberikan fasilitas untuk media pembelajaran.

4.      Dalam menyampaikan materi harus lebih matang dan jelas sehingga siswa lebih paham dan mudah menyerap pelajaran.